Free Lines Arrow
Kamu tersenyum membaca tulisanku. Padahal aku menulisnya karena membaca senyummu. Quote (via kunamaibintangitunamamu) 119 notes
Ampunilah aku, yang bukan siapa-siapamu tetapi khawatir. Zarry Hendrik (via mbeeer) 54 notes
Selalu menghitung perjuangan, pengorbanan dan semua yang telah dilakukan demi seseorang lalu merasa kecewa karena tidak terbalas adalah lifestyle masa kini. Ikhlas sepertinya adalah sesuatu yang sudah dianggap ketinggalan zaman. 11 notes
Satu hal yang tidak disadari oleh orang yang selalu menyembunyikan perasaannya; tidak ada yang pernah ingin mencari tahu bagaimana perasaannya. 6 notes
  • A: "Pada akhirnya, menjadi yang selalu ada tidaklah cukup.."
  • B: "Iyalah, manusia kapan ngerasa cukupnya?"
3 notes
Ah manusia terlalu jauh memandang, mencari sesuatu yang sebenarnya selalu ada; di balik kelopak mata.   0 notes
Kadang kau harus meneladani matahari. Ia cinta pada bumi; tapi ia mengerti; mendekat pada sang kekasih justru membinasakan.

Salim Akhukum Fillah (via erstudio)

gapernah bosen nge-reblog ini, quotes favorite :)

Rinduku tertuji pada langit…jangankan pelan mendekat, baru beranjak gravitasi sudah memaksaku duduk lagi.

(via kekasihsenja)

133 notes
#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-3: Kepada Seluruh Perempuan yang Selalu Merasa Tersakiti

Kepada seluruh perempuan yang selalu merasa tersakiti,

Aku menulis surat ini untuk kalian dengan cinta tanpa berharap kalian cintai. Aku merasa tak perlu  menanyai kabar kalian karena aku merasa kalian akan selalu menjawabnya dengan baik-baik saja, dan akan selalu begitu. Aku tak peduli apakah itu keadaan yang sebenarnya atau kalian hanya berusaha agar  terlihat kalian baik-baik saja. Aku tak peduli, tapi aku percaya kalian. Aku percaya kalian adalah pribadi yang tegar. Pribadi yang  tetap tegar menghadapi hujatan ‘sok tegar’ dari yang merasa lebih tegar.

Aku percaya kalian, tapi aku tak peduli. Karena dengan aku tak peduli, aku bisa makin percaya bahwa kalian bisa tetap hidup bahagia tanpa kepedulianku, kepedulian mereka dan kepedulian yang lain-lain yang sebenarnya tidak terlalu kalian butuhkan. Yang kalian butuhkan hanyalah merasa tetap bahagia, karena dunia perlu kalian bahagia. Seperti yang tertulis dalam suatu kitab, dunia semakin mendekati akhir zaman ketika perempuan lebih banyak jumlahnya dari laki-laki. Bagaimana bisa dunia yang akan habis ini dihuni oleh kalian yang  tidak bahagia yang jumlahnya lebih banyak dari pada jumlah  laki-laki.

Untuk masalah penyebab kalian tidak bahagia seperti cinta, harta, karier dan sebgaianya, aku tidak peduli. Ya memang karena aku tidak peduli. Tapi aku percaya kepada kalian, dan akan selalu percaya.

Tertanda,

Aku, Yang Selalu Percaya.

2 notes
#30HariMenulisSuratCinta Hari ke- 4: Aku Menulis Surat Lagi Untukmu

Hai,

Aku menulis surat lagi untukmu. Bukankah menyenangkan menjadi yang selalu dikirim surat tapi merasa tak perlu untuk membalas? Membaca tiap kata dari suratku yang ujungnya akan selalu tentangmu. Ya memang tujuanku menulis surat ini memang agar terbaca, bukan agar dibalas. Sumpah! Aku tak sedikit pun ingin dibalas. Aku hanya ingin kau membaca dan mengerti bahwa ada yang masih sempat-sempatnya menulis surat untukmu di zaman yang masih memberlakukan paham bahwa “cinta itu tersirat, bukan tersurat”.

Aku sebeneranya ingin sekali menemuimu dan bicara secara langsung daripada harus menulis surat, tapi aku rasa menulis surat terlebih dahulu sebelum menemui mu itu jauh lebih baik. Setidaknya isi surat ini sebagai kisi-kisi agar nantinya kamu tidak terlalu kaget ketika aku menemui mu dan bicara langsung kepada mu.

Semua ini tentang semua rasa yang telah hampir 3 tahun ku pendam tanpa berharap ada yang menggali. Rasa yang ku pendam tak terlalu dalam. Dan kau bisa melihatnya. Rasa itu mungkin terlihat seperti gundukan di atas tanah yang begitu mencolok tapi tak menarik perhatian. Terlihat jelas sekali. Dan aku berani bertaruh bahwa kau pun sebenarnya tahu selama ini. Aku yakin sekali bahwa kau itu tahu. Dan semua teman-teman pun juga tahu bahwa kau tahu. Ya aku akui, aku memang tak pandai dalam hal memendam perasaan, tapi setidaknya aku pandai dalam mempertahankannya.

Aku juga yakin kau pasti tahu bahwa semua puisi dan tulisanku adalah untukmu. Semua lagu, semua perhatian, pesan singkat, ucapan selamat pagi, selamat malam dan selamat-selamatnya yang lainnya (yang sekarang tidak berarti apa-apa) dari ku. Aku begitu yakin, kau pasti tahu. Tapi hanya tahu dari itu, bukan langsung dari mulut ku.

Aku dulu sempat ingin memperjuangkan mu, sempat selalu memperbaiki diri agar pantas bersanding dengan mu, dan sempat ingin memilik mu. Tapi kurasa sekarang itu adalah keinginan yang terlalu muluk-muluk. Aku berfikir, setelah berhasil memperjuangkan mu, merasa pantas, kemudian memilikimu, lalu apa setelah itu? Aku buntu.

Aku mencintaimu? Iya pasti. Sayang? Tentu. Dan sekarang hanya itu. Sebatas itu, tidak lebih. Dan selama aku dalam batas itu, aku menjadi pribadi yang lebih baik. Terimakasih telah membuatku jatuh cinta dengan luar bisa. Terimakasih atas segalanya, walau kau merasa tak pernah melakukan apa-apa. Tapi terimakasih.

Tujuanku kali ini hanyalah menggali dan memperlihatkan kepada mu apa yang aku pendam selama ini. Mungkin tak seberapa indah, namun cukup untuk membuat mu merasa istimewa. Ya karena kau memang harus tahu, bahwa kau istimewa.

Jika kau bertanya apakah aku lelah? Tidak. Apa yang harus dilelahkan, aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya mencintai. Dan jika kau bertanya mengapa harus selama itu? Ya karena suatu hal yang istimewa selalu butuh waktu. Jika kau tidak bertanya apapun, memang seharusnya tidak ada yang perlu dipertanyakan.

Sampai jumpa, tak lama sesudah ini aku akan menemuimu.

Penuh cinta,

Aku

10 notes
#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-2: Untuk Ayah, Yang Selalu Mengeluh Gerah.

Untuk  Ayah, yang tak mau terlihat payah.

Keriput di wajah mu itu sudah membuat mu tak gagah lagi. Amarah kesal mu telah menjadikan mu tak terlihat bijaksana lagi. Dan keegoisan mu ,mengupas sedikit rasa hormat ku kepada mu. Serta sikap pelit mu ketika aku meminta recehmu untuk beli sepatu baru. Aku tak begitu mengerti mengapa kau begitu.

Larangan mu atas setiap hal yang akan aku lakukan semakin tak masuk akal. Mengekangku, menyuruhku sesuka hati, dan selalu merasa tak puas. Aku makin tak mengerti mengapa kau begitu.

Untuk Ayah, yang selalu mengeluh gerah.

Keringat selalu menetes dari keningmu. Memang seharian ini udara terasa panas, atau mungkin tubuh mu saja yang mudah panas? Bukannya membeli kipas angin, kau lebih memilih membuka baju. Sumpah aku makin tak mengerti mengapa kau begitu.

Anak lanangmu ini sekarang sudah 18 tahun, dan selama itu aku memikirkan untuk menulis ini. Mengumpulkan semua kesalahan mu untuk kutuliskan. Selama 18 tahun ini aku hanya mendapat ini, Ayah. Dan ini adalah hal tersulit dalam hidupku. Sungguh, sulit sekali. Dan ini adalah puncak dari tak kemengertianku.

Yang aku mengerti adalah jika aku menuliskan semua kebaikanmu selama 18 tahun ini, aku hanya takut menua di depan layar monitor, lalu mati terlebih dahulu sebelum menyelesaikannya.

Salam sayang,

Anak Lanang mu.

0 notes
#30HariMenulisSuratCinta : Aku Menulis Surat Ini untukmu.

Halo.

Aku menulis surat ini untukmu. Untukmu yang sedang membaca surat ini. Untukmu yang sedang menebak-nebak. Untukmu yang sedang merasa diistimewakan.

Aku menulis surat ini untukmu. Untukmu yang sedang merasa dicintai olehku. Untukmu yang merasa sedang dirindukan olehku. Untukmu yang merasa selalu ada di puisi-puisiku. Untukmu yang merasa selalu menjadi lirik indah setiap lagu.

Aku benar-benar menulis surat ini untukmu. Untukmu yang sedang merasa diperjuangkan. Untukmu yang sedang merasakan kebaikan dari setiap iuran doaku di sela doa-doa orang yang juga menyayangimu. Untukmu yang sedang merasa bahwa semua ini selalu tentangmu. Untukmu yang sedang tersenyum, kebingungan atau muak dengan surat ini. Untukmu yang sedang merasa bahwa surat ini terlalu berlebihan.

Aku masih benar-benar menulis surat ini untukmu. Untukmu yang masih sempat-sempatnya melanjutkan membaca surat ini. Untukmu. Pokoknya untukmu. Percayalah, aku menulis surat ini hanya untukmu. Aku bersumpah demi apapun, aku menulis surat ini hanya untukmu. Sekali lagi, aku menulis surat ini hanya untukmu!

Sebelum ini, aku juga menulis surat. Namun bukan untukmu, tapi untuk diriku sendiri. Surat tentang pengampunan diri sendiri. Semoga aku dapat mengampuni diriku sendiri, kalau-kalau benar; tak ada satupun yang kau rasakan.

Tapi tenang, aku tetap menulis surat ini hanya untukmu.

10 notes
Cinta pada dasarnya adalah kebahagiaan. Namun hanya sebagian orang yang berhasil sampai ke dasar. 9 notes

Sebodoh bodohnya ragu, adalah ragu untuk menyampaikan rindu. Sebodoh bodohnya rasa adalah yang dibiarkan terpendam menjadi sekedar salah paham.

Aku bodoh.

(via kekasihsenja)

17 notes